Dalam kesempatan membeli jam tangan di bilangan jalan Juanda beberapa minggu yang lalu, ada rejeki yang kuperoleh secara tak sengaja. Kok bisa?
Ceritanya, toko jam ini adalah agen resmi dari sebuah merek yang amat terkenal dalam urusan elektronik digital, semisal jam tangan digital, kalkulator dan organ/keyboard. Walau untuk yang terakhir ini produknya masih kalah terkenal bila dibandingkan dengan Yamaha, Teknis, Korg atau Roland. Produknyapun hanya untuk kelas rumahan, arinya dimainkan di rumah saja, oleh anak-anak atau orang tua untuk sekedar iseng membunuh waktu. Bukan untuk mencari nafkah seperti organ tunggal apalagi orkestra, masih jauh.
Begitu masuk toko, langsung disambut dengan jajaran organ yang terdiri dari berbagai jenis dan seri. Sementara jam tangannya sendiri terletak lebih di belakang, di dalam lemari kaca. Setelah beberapa menit memilih dan menemukan satu yang cocok, akhirnya membeli dua (memang penyakit konsumtif yang kronis sekali :P). Akhirnya keduanya dibeli. Tapi sebelum itu, “Mbak, saya jadi beli tapi dengan satu syarat. “
“Apa?”
“Saya boleh numpang main piano yang di depan itu gak?”
“Ooh, boleh-boleh.” Sahutnya sambil tersenyum-senyum. Mungkin dalam pikirannya, ‘pembeli yang aneh.’
Ah biarinlah, bodo!
Tapi dia benar menepati janji, setelah menerima bon yang telah divalidasi dariku dia memberikan dua jam tangan dalam kotak dalam satu kantong plastik yang cukup cantik juga, dia melangkah ke depan, memasang sambungan listrik dan menyalakan piano itu setelah membuka penutupnya. “Silakan mas.” Katanya ramah.
Wow, piano yang cantik sekali!
Mengalunlah satu lagu dari susunan denting-denting suara yang termat jernih. Ingin rasanya meneruskan, tetapi tidak mungkin lagi karena sudah jamnya untuk kembali ke tempat kerja.
Piano itu elektrik, bukan analog seperti piano-piano klasik. Ada banyak tombol yang berfungsi untuk mengubah-ubah suara yang dihasilkan sesuai keinginan kita. Rangka dan casingnya secara keseluruhan tetaplah dari bahan kayu yang dibuat dengan sangat halus dan cantik sekali. Kumatikan lalu kututup kembali. Sambil mengucapkan terima kasih, iseng-iseng kubertanya harganya.
“Sembilan belas juta sekian-sekian!” jawab pelayan toko itu santai.
WAT?
Harga yang masih terletak di alam mimpi. Tapi syukurlah belum beli tapi dah boleh main. Benar-benar rejeki.











